KONSUMSI GULA BERLEBIH DAPAT PICU DIABETES

  • May 09, 2023
  • KARABAN-GABUS
  • BACAAN

8 Mei 2023

Oleh : Mohamad Khomarudin

Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya. Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan tingginya kadar gula darah akibat gangguan pada pankreas dan insulin. Kelebihan kadar gula ini tidak dapat diproses menjadi energi. Diabetes melitus menyebabkan komplikasi berbagai penyakit diantaranya stroke, jantung, gagal ginjal, luka infeksi pada kaki dan lain lain.

Data International Diabetes Federation tahun 2021 menunjukkan, 537 juta populasi di dunia diduga terkena diabetes dan di Indonesia sebanyak 19,5 persen orang yang terkena diabetes. Sementara itu, pada 2045 diperkirakan Indonesia berada di angka 28,6 persen (Kompas.id, 14 November 2022).

Berdasarkan data dari Kompas.id estimasi penderita diabetes melitus pada tahun 2000 sebanyak 8,4 juta jiwa dan akan naik lagi sebanyak 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Dengan prevelensi diabetes melitus semua umur pada tahun 2018 terbanyak terdapat di DKI Jakarta kemudian disusul oleh DI Yogyakarta (Kompas.id, 14 November 2022).

Berdasarkan data dari Puskesmas Gabus II pada tahun 2022 jumlah penderita diabetes melitus di Desa Karaban ada 121 orang, laki-laki sebanyak 47 orang dan perempuan sebanyak 74 orang. Menurut Alis Setyaningsih salah satu perawat di Puskesmas Gabus II “Gejala pasien Diabetes Melitus diantaranyanya adalah mudah lapar, sering buang air kecil, kalau ada luka tidak sembuh-sembuh atau sembuhnya lama”. Alis pun mengatakan bahwa untuk menangani pasien dengan gejala tersebut juga dilakukan pengecekan kadar gula dalam darah, jika kadar gula darah lebih dari 200 miligram per desiliter maka terdiagnosis diabetes melitus.

 

Pemicu Penyakit Diabetes

Konsumsi makanan manis dengan kandungan gula yang tinggi secara berlebihan menjadi salah satu pemicu diabetes melitus. Ketika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat, maka seseorang akan mudah mengalami diabetes yang menjadi pintu masuk berbagai penyakit. Karena itu, warga dianjurkan untuk membatasi asupan makanan dengan kadar gula tinggi (Kompas.id, 14 November 2022).

Ahli endokrinologi dari Universitas Gadjah Mada, Bowo Pramono, menyebutkan, seseorang yang mengonsumsi makanan manis dengan kadar gula tinggi secara terus-menerus rawan terkena diabetes. ”Dampaknya tidak terasa langsung, tetapi pada masa datang. Bisa tiga tahun empat tahun, bahkan belasan tahun ke depan,” ujarnya, Senin (14/11/2022) (Kompas.id, 14 November 2022).

Seperti yang telah kita ketahui pada saat puasa di Bulan suci Ramadhan konsumsi makanan dan minuman manis meningkat. Kita sering melihat iklan di televisi maupun di media sosial dengan kata-kata “berbukalah dengan yang manis-manis”. Minuman manis seperti es cincau, sirup, dawet, kolak dll sering disediakan untuk hidangan berbuka puasa.

Demikian halnya ketika lebaran atau saat Hari Raya Idul Fitri berbagai makanan dan minuman manis tersaji di meja untuk para sanak saudara dan tetangga yang berkunjung silaturahmi di hari kemenangan Idul Fitri. Kue lebaran seperti nastar, biskuit, kue kering tidak jarang tersaji di meja tamu bahkan menjadi favorit untuk dikonsumsi.

Dari hal tersebut untuk itu kita perlu berhati-hati dalam mengonsumsi suatu makanan dan minuman. Dalam mengonsumsi makanan dan minuman hendaknya selalu berimbang dengan memperhatikan informasi nilai gizi yang ada di bungkus makanan tersebut. Pola konsusmsi seimbang ini idealnya mencakup karbohidrat, lemak, dan protein, serta sayur dan buah-buahan. Begitu juga dengan minuman yang kita konsumsi hendaknya membatasi minuman berpemanis. Lebih banyak porsi minum air putih.

 

 

Pola Hidup Sehat

Pada dasarnya, makan makanan apa pun tidak menjadi persoalan asal diimbangi dengan kegiatan yang cukup atau pola hidup sehat. Di Indonesia, mayoritas orang terkena diabetes akibat dari kurang beraktivitas, tetapi gemar mengonsumsi makanan yang manis (Kompas.id, 14 November 2022).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eva Susanti mengatakan, tingginya konsumsi gula oleh masyarakat telah memicu diabetes. Menurut Eva, produk konsumsi yang tinggi itu, seperti teh kemasan, susu kental manis, dan jus buah serbuk. Sementara itu, Kemenkes telah menganjurkan batas maksimum konsumsi gula sebesar 50 gram per hari atau setara empat sendok makan (Kompas.id, 14 November 2022).

Dengan membatasi konsumsi gula 50 gram per hari atau setara empat sendok makan perhari akan membantu kerja pankreas dan isnsulin. Gula akan dicerna menjadi energi dan disalurkan keseluruh tubuh. Tidak ada gula berlebih akan menurukan resiko terkena diabetes melitus. Konsumsi gula juga bisa ditekan dengan mengkonsumsi buah dan sayur secara alami.

Pola hidup sehat bisa berupa aktivitas fisik atau olahraga selama 30 menit setiap hari. Kegiatan ini bisa berupa jogging, jalan sehat, ataupun bermain perminan olahraga seperti bulu tangkis, futsal, dll. Makan teratur dan seimbang minum air putih secara rutin. Tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol juga baik untuk Kesehatan.

 

 

Referensi

Salam, Hidayat. (2022, November 14). Cegah Diabetes, Cek Kandungan Gula pada Minuman. Kompas.id diakses dari

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/11/14/cegah-diabetes-cek-kandungan-gula-pada-minuman

 

Nababan, Willy Medi Chistian. (2022, November 14). Bahaya Makanan Manis Pemicu Diabetes. Kompas.id diakses dari

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/11/14/bahaya-makanan-manis-pemicu-diabetes

 

 

 

editor: edi